Upaya Pencegahan Kebakaran Lahan Oleh Kelompok Tani Desa Rasau Jaya Umum Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya

Kebakaran lahan dan hutan di Indonesia, terjadi setiap tahun walaupun frekuensi, intensitas dan luas arealnya berbeda. Kebakaran paling besar terjadi pada tahun 1997/1998 dan pertama kali dinyatakan sebagai bencana nasional. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran lahan dan hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis, menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, perubahan iklim mikro dan global, asapnya menganggu kesehatan masyarakat, serta menganggu transportasi darat, sungai, laut dan udara. Hal ini sangat jelas menganggu aktivitas sosial ekonomi masyarakat, bangsa dan negara. Khusus untuk Kalimantan Barat saja, kerugian yang diderita akibat kebakaran lahan dan hutan dengan luas hutan terbakar mencapai 34 ribu ha dan lahan/kebun hampir 20 ribu ha, diprediksi lebih dari Rp.142 miliar ( Subarjo, dkk, 2006).

Kebakaran lahan dan hutan yang melanda Indonesia termasuk Kalimantan Barat sejak tahun 1997 sampai sekarang merupakan bencana besar bagi lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat. Namun demikian, tak seorangpun benar–benar memahami penyebab yang mendasari terjadinya kebakaran tersebut. Dinas Kehutanan Kalimantan Barat, misalnya menyalahkan para peladang berpindah sebagai penyebab kebakaran di Kalimantan Barat. Dipihak lain, para pecinta lingkungan hidup menyebutkan bahwa kebakaran–kebakaran yang terjadi merupakan akibat pengelolaan hutan dan lahan yang buruk. Kemudian pemerintah menyalahkan masyarakat terutama petani atas kebakaran yang terjadi, organisasi–organisasi lingkungan hidup menyalahkan perusahaan–perusahaan kayu dan perkebunan.

Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat melaporkan pada tahun 2000, 20 % dari total penduduk kota Pontianak terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pada bulan Juli hingga September 2002 telah tercatat 23.244 orang yang menderita ISPA akibat dampak kabut asap (Subarjo, dkk, 2006).

Kebakaran lahan dan hutan telah menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar ke-3 dalam menyumbangkan emisi gas Carbon Dioksida (CO2) setelah Amerika Serikat dan China. Sementara menurut Protokol Kyoto, CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca selain, CH4 (Metana) dan N2O yang menjadi penyumbang terbesar bagi pemanasan global.


EmoticonEmoticon