Showing posts with label Proposal. Show all posts
Showing posts with label Proposal. Show all posts

Skripsi Pesan Motivasi Dalam Komunikasi Bisnis Di PT. X (Analisis Berdasarkan Kerangka Pemikiran Douglas McGregor)

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Salah satu tugas seorang pemimpin dalam suatu perusahaan adalah memberikan pesan yang inspiratif dan juga motivatif bagi orang-orang yang berada dibawah kepemimpinannya. Pesan yang inspiratif adalah pesan yang dapat memberikan pengarahan dan dapat menggerakkan karyawan untuk melakukan sesuatu tindakan berdasarkan apa yang dirasa dan dilihatnya. Sedangkan pesan motivatif memberikan pengertian sebagai pesan yang dapat memberikan stimulasi-stimulasi atau daya tarik kepada karyawan untuk lebih giat bekerja dan menjalankan pekerjaannya dengan mengoptimalkan seluruh kemampuan dan potensi yang dimiliki.
Pesan-pesan tersebut bisa berupa instruksi, pengarahan ataupun yang lainnya yang pada intinya adalah bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada bawahan untuk bertanggungjawab terhadap apa yang telah diinstruksikan kepadanya. Dalam hal ini, seorang pemimpin yang baik adalah yang memiliki kecakapan dalam memahami karakter, kemampuan dan potensi bawahannya, karena akan mempengaruhi tugas-tugas yang diberikan.
Namun, ketika karyawan melaksanakan instruksi dan pengarahan atau penjelasan pimpinan, mereka seringkali larut dengan pekerjaannya masingmasing, terfokus agar bisa segera menyelesaikan pekerjaan yang dimilikinya. Situasi seperti ini mempengaruhi suasana komunikasi di lingkungan suatu perusahaan. Aktivitas komunikasi menjadi sangat minim dan hanya akan berjalan ketika mereka membutuhkan keterangan atau masukan dari pihak lain. Seperti halnya yang terjadi di lokasi penelitian, yaitu di PT. X, yang dirasa suasana komunikasi seperti ini sering terjadi. Situasi seperti ini belum tentu membuat karyawan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan optimal dalam waktu yang tepat, terkadang malah membuat karyawan itu jenuh dan kehilangan semangatnya dalam mengerjakan pekerjaannya. Meskipun ada ungkapan pepatah yang mengatakan mengenai “sedikit bicara banyak bekerja”, bukan berarti menjadikan para karyawan mengabaikan fungsi komunikasi sebagai satusatunya alat berinteraksi antar sesama rekan kerjanya termasuk dengan pimpinan.
Disinilah urgensi pimpinan diperlukan dalam memberikan perannya meminimalisir permasalahan yang ada dan mengembalikan keseimbangan hidup karyawannya. Hal ini dapat dila kukan dengan memberikan pesan-pesan yang mengandung motif-motif tertentu demi menumbuhkan semangat kerja karyawan.
Berkaitan dengan pesan yang akan disampaikan pimpinan agar menciptakan suatu pesan yang inspiratif dan motivatif bagi karyawan, maka ada dua peran utama yang harus di lakoni oleh seorang pemimpin sesuai dengan karakter karyawan di PT. X ini, yaitu peran instruktor dan motivator.
Dalam hal ini, Thariq Muhammad al-Suwaidan berpendapat bahwa: Peran sebagai instruktor adalah mengarahkan para karyawan tentang bagaimana melaksanakan tugas-tugas, kapan, dan dimana. Sementara peran pengikut adalah mendengarkan dan melaksanakan tugasnya. Dan peran sebagai motivator adalah mendorong para karyawan untuk melaksanakan pekerjaan mereka secara mandiri, menyemangati dan membangkitkan rasa percaya diri mereka, juga mendengarkan pendapat dan memberikan kewenangan, serta menyertakan mereka dalam pengambilan keputusan.
Dari fenomena diatas dibutuhkan kepemimpinan situasional yang dapat menempatkan dirinya sesuai dengan karakter orang yang dihadapinya. Kemampuan seorang pemimpin seperti ini akan memudahkannya untuk menentukan pesan apa yang akan disampaikan yang dapat memberikan motifmotif tersendiri bagi penumbuhan semangat kerja demi kemajuan kinerja karyawan.
Berangkat dari paparan diatas, maka peneliti tertarik untuk mengakaji pesan-pesan motivasi yang disampaikan pimpinan kepada karyawan dengan berdasarkan pada kerangka pemikiran Douglas Mc.Gregor melalui Teori yang dipopulerkannya , yaitu Teori X dan Teori Y-nya. Teori X dan Teori Y ini memberikan asumsi mengenai dua perilaku manusia yang berlawanan dan memberikan gambaran mengenai bagaimana membingkai pesan dalam memberikan perlakuan perlakuan motivasi bagi keduanya.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana proses komunikasi bisnis antara pimpinan dan karyawan di PT. X?
2. Bagaimana pesan motivasi dalam komunikasi bisnis di PT. X jika dianalisis dalam kerangka pemikiran Douglas Mc. Gregor?

C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini diadakan dengan beberapa tujuan sebagai berikut:
1. Memahami proses komunikasi bisnis antara pimpinan dan karyawan di PT. X.
2. Memahami pesan motivasi dalam komunikasi bisnis di PT. X dalam kerangka pemikiran Douglas Mc. Gregor.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Secara Teoritis/Akademis
Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan ilmiah dalam bidang studi Ilmu Komunikasi dan sebagai bahan pertimbangan bagi prodi komunikasi untuk bahan bacaan atau referensi bagi semua pihak. Kegiatan penelitian ini dapat bermanfaat dan memberikan pengetahuan baru bagi semua pihak khususnya bagi mahasiswa yang mengikuti organisasi intra dan ekstra dalam universitas sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran dalam berorganisasi.
2. Secara Praktis
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam bidang komunikasi khususnya komunikasi antara pimpinan dan bawahan dalam suatu perusahaan atau organisasi dimana pimpinan dapat menyampaikan pesan-pesan yang bermakna motivasi bagi bawahannya untuk berprestasi. Sedangkan untuk peneliti diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah daya kritis dan nalar serta mempertajam kondisi komunikasi organisasi yang terjadi dalam suatu perusahaan atau organisasi di lingkungan penelitian.

E. DEFINISI KONSEP
Pada dasarnya konsep merupakan pokok dari penelitian dan suatu konsep sebenarnya definisi singkat dari sejumlah fakta atau gejala yang ada.
Dalam merumuskan suatu hal haruslah dapat dijelaskan sesuai dengan maksud pemakaiannya, harus ditentukan dengan harapan agar orang lain yang membacanya dapat segera memahami maksudnya sesuai dengan maksud penulis menggunakan konsep tersebut. Karena konsep merupakan suatu kesatuan pengertian tentang suatu hal yang perlu dirumuskan. Untuk itu diperlukan penyederhanaan arti kata agar tidak terjadi kesimpangsiuran pemahaman. Adapun definisi konsep dalam penelitian ini adalah:
1) Komunikasi Bisnis
Bernard Katz, dalam bukunya Komunikasi Bisnis Praktis berpendapat bahwa dalam makna sederhana, komunikasi adalah proses bertukar pengertian. Pengirim menyampaikan pesan kepada penerima. Sedangkan dalam bisnis, komunikasi berarti bertukar pesan yang berkaitan dengan pencapaian serangkaian tujuan komersial. Idealnya, pesan yang dikomunikasikan dapat diterima penerima dalam format dan dengan intensitas yang sama seperti ketika dikirim. 8
Dalam penelitian kali ini memberikan pengertian bahwa komunikasi bisnis adalah proses penyampaian pesan yang dilakukan pimpinan kepada karyawan untuk melakukan tindakan pekerjaan tertentu sesuai dengan tujuan perusahaan PT. X.
2) Pesan Motivasi
Ibn Omer Shafrudin berpendapat bahwa Motif adalah faktor internal yang muncul, mengarahkan, dan mengintegrasikan perilaku seseorang. Hal ini tidak dapat disaksikan secara langsung, namum tersimpulkan dari tindakan. Oleh karena itu, motivasi merujuk pada semua usaha sadar untuk mempengaruhi perilaku manusia terhadap pelaksanaan tujuan organisasional.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pesan motivasi adalah penggunaan simbol-simbol, baik verbal maupun nonverbal yang dilakukan pimpinan untuk menumbuhkan semangat karyawan PT. X dalam menjalankan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Adapun sistematika pembahasan dalam laporan penelitian ini adalah:
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep dan sistematika pembahasan.
BAB II : KERANGKA TEORITIS
Bab ini berisi tentang kajian kepustakaan konseptual yang sesuai dengan focus kajian penelitian yang dilakukan dan kerangka teoritik dari teori motivasi Douglas Mc.Gregor.
BAB III : METODE PENELITIAN
Dalam Bab ini berisi tentang pendekatan dan jenis penelitian, subyek penelitian, jenis dan sumber data, tahap-tahap penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan teknik pemeriksaan keabsahan data.
BAB IV : PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
Bab ini meliputi setting penelitian, penyajian data, analisis data dan pembahasan penelitian.
BAB V : PENUTUP
Bab terakhir ini meliputi kesimpulan dan rekomendasi serta kritik dan saran dari penulis, dan pada bagian akhir skripsi ini disertakan lampiran-lampiran yang mendukung penelitian dilapangan.

Skripsi Strategi Komunikasi Dalam Mensosialisasikan Budaya Perusahaan Di Kalangan Karyawan (Di Hotel X Kota X)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bisnis perhotelan di X memiliki keunikan tersendiri. Pada saat pelaku bisnis serupa dikota-kota lain Indonesia mengeluh karena tingkat hunian turun, X justru sebaliknya. Pada tahun XXXX, tingkat hunian atau okupansi hotel berbintang di X rata-rata bisa mencapai 75 % bahkan lebih. Bahkan pada saat peak season (musim ramai tamu) selalu fully booked (http://www.suaramerdeka.com/harian/0407/08/eko6. htm). Tidak mengherankan jika kemudian banyak investor melirik X sebagai lokasi potensial untuk mendirikan hotel. Kehadiran pemain baru hotel berbintang membuat suatu persaingan dalam dunia perhotelan dan pemain lama tidak tinggal diam. Berbagai persiapan sudah dilakukan paling tidak berusaha mempertahankan pasarnya. Meskipun pangsa pasar pada kenyataannya masih luas, jika tidak diperhatikan bukan tidak mungkin konsumen akan memilih hotel lain yang menawarkan pelayanan lebih baik.
Hotel X sebagai salah satu hotel berbintang 5 (lima) di kota X dan memasuki tahun yang ke-10 di tahun XXXX yang lalu tetap berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui penentuan strategi pengelolaan untuk dapat mempengaruhi dan membuktikan kepada tamu tentang keistimewaan produk atau layanan yang dihasilkan oleh hotelnya sehingga mampu tetap unggul dalam persaingan.
Pengelolaan usaha hotel tidak akan terlepas dari pelaksanaan strategi, yaitu suatu pendekatan untuk menggunakan segala sumber daya yang tersedia didalam kendala iklim kompetitif untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan oleh hotel (Sulastiyono, 2002:15). Strategi pengelolaan usaha hotel dapat dilakukan melalui strategi manajemen yang hanya membatasi sampai pada pengertian yang analog dengan manajemen operasional, yaitu sebagai pendekatan menyeluruh pengelolaan semua aspek usaha hotel (fasilitas-fasilitas, kebijakan, karakteristik produk dan sumber daya manusia).
A.B Susanto, Managing Partner The Jakarta Consulting Group dan Wagiono Ismangil, Senior Consultant The Jakarta Consulting Group dalam http://www.glorianet.org/absusanto/absucorp.html menyatakan bahwa Sumber Daya Manusia dalam sebuah organisasi dapat diandaikan sekumpulan tombak Sumber Daya Manusia yang kompeten arahnya tidak teratur. Tugas budaya perusahaan adalah mengikat mereka dalam satu arah, sehingga mempunyai daya ‘ dobrak ‘ yang tinggi dalam persaingan.
Bob Widyahartono, Pengamat Ekonomi dan Dosen FE Usakti melalui artikelnya tentang Filosofi Melandasi Budaya Perusahaan yang Operasional dalam http://www.ama-sby.com/71-artikel_filosofi.htm menyatakan bahwa setiap organisasi terdiri atas berbagai ragam manusia dengan sifat dan perilaku masing masing. Sekalipun demikian setiap organisasi memiliki kesadaran diri atau tata nilai yang mendasari gerak operasinya. Dengan adanya kesadaran itu maka suatu filosofi dapat merupakan sarana yang paling berguna untuk mempersatukan kegiatan para karyawan melalui suatu pengertian bersama akan sasaran dan tata nilai (goals and values).
Lebih lanjut Bob Widyahartono (http://www.ama-sby.com/71-artikel_filosofi.htm) memberikan pendapatnya bahwa peranan manajemen puncak yang mengalir melalui menengah adalah membekali segenap karyawan secara kontinu nilai nilai konseptual yang "menjelaskan tujuan hidup (purpose of life). Manajemen puncak tidak hanya membekali nilai nilai tersebut, tapi juga dasar pendapat nilai (value premise for decision making) dan bukannya dasar pendapat factual.
Agar dapat mempertahankan posisinya sebagai hotel berbintang lima di X dan memenangkan strategi bisnis di tahun XXXX, pada bulan Oktober tahun XXXX, Manajemen Hotel X menelaah kembali tujuan perusahaan yang diawali dengan suatu rangkaian tata nilai dan keyakinan mendasar yang secara internal terpadu dan terkait dengan lingkungan eksternal. Dengan pola berpikir yang filosofis itu, manajemen Hotel X menetapkan Misi dan Visi Perusahaan yaitu : Misi Perusahaan, We Care More For Our Customer, Staff, Shareholder/owner, Community dan Visi Perusahaan, Being Market Leader and Trend Setter. Hal tersebut bertujuan untuk membangun budaya perusahaan yang kredibel dan operasional melalui lima komponen Corporate Culture yaitu INTEGRITY, PROFESSIONAL, TEAM WORK, INNOVATIVE, HELPFUL & FRIENDLY .
Melalui penetapan Corporate Culture, Hotel X semakin menyadari pentingnya peran budaya perusahaan bagi perusahaan. Lebih lanjut AB Susanto menyatakan bahwa dahulu budaya perusahaan hanya dipandang sebagai salah satu alasan kenapa perusahaan mencapai sukses. Tetapi pandangan tentang budaya perusahaan sekarang menjadi salah satu tema sentral dalam pengembangan perusahaan. Budaya perusahaan bukan hanya dipandang sebagai warisan masa lalu belaka, tetapi juga harus direkayasa dan ditempatkan sebagai strategic tools untuk mencapai tujuan perusahaan dan sebagai andalan daya saing. Hampir semua aspek pengembangan perusahaan selalu terkait dengan budaya perusahaan (http://www.glorianet.org/absusanto/absucorp.html).
Budaya melakukan sejumlah fungsi untuk mengatasi permasalahan anggota organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan eksternalnya yaitu dengan memperkuat pemahaman anggota organisasi, kemampuan untuk merealisir, terhadap misi dan strategi, tujuan, cara, ukuran dan evaluasi. Budaya juga berfungsi untuk mengatasi permasalahan integrasi internal dengan meningkatkan pemahaman dan kemampuan anggota organisasi untuk berbahasa, berkomunikasi, kesepakatan atau consensus internal, kekuasaan dan aturannya, hubungan anggota organisasi (karyawan), serta imbalan dan sangsi (Schein, 1991 : 52-66)
Charles Hampden dan Turner dalam bukunya Corporate Culture (Yudipiatkus Ltd. London, 1994), menampilkan beberapa karakteristik dalam budaya organisasi (http://www.csps-ugm.or.id/artikel/polbibit.htm) : • Individu membentuk budaya organisasi, dimana seseorang dapat melaksanakan gagasan-gagasan , perasaan dan informasi yang konsisten dengan keyakinannya.
• Budaya organisasi dapat menjalin keunggulan yang didapatkan (rewarding excellence), dimana budaya organisasi dapat mewujudkan kebutuhan dan organisasi anggota-anggotanya.
• Budaya organisasi merupakan kerangka peneasan (a set of affirmations), tidak ada organisasi yang mulai dari ketiadaan , anggota organisasi memerlukan diilhami dengan keyakinan dan penegasan tentang sesuatu.
• Penegasan budaya organisasi cenderung mengisi dirinya sendiri sebelum mewujudkan nilai-nilai dasar penyehatan kepada pelanggan.
• Budaya organisasi harus dapat dipahami dan merupakan kesamaan titik pandang dari segenap organisasi
• Budaya organisasi menyiapkan anggotanya dengan kontinuitas
• Budaya organisasi merupakan reciprocal value
• Budaya organisasi merupakan sebuah cybernetic system, dimana budaya organisasi secara tidak langsung dapat mengarahkan dirinya sendiri dan secara gigih mempertahankan arah yang dimilikinya walaupun banyak kendala dan gangguan
• Budaya adalah pola yang tidak memiliki sesuatu atau obyek khusus, tetapi melintasi seluruh waktu dan seluruh organisasi
• Budaya adalah sesuatu tentang komunikasi, yang dapat dijadikan alat untuk tukar menukar informasi dan pengalaman
• Budaya merupakan keterpaduan nilai-nilai yang dimili anggotanya dan lingkungan organisasi
• Hanya budaya dapat belajar dan organisasi harus belajar terhadap setiap perkembangan yang dihadapi organisasi.
Bob Widyahartono (http://www.ama-sby.com/71artikel_filosofi.htm) memberikan pengertian bahwa budaya organisasi merupakan suatu pola dan asumsi asumsi dasar yang ditemukan, digali dan dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu. Maksudnya adalah agar organisasi belajar dan terus melakukan pembelajaran menanggulangi masalah masalah akibat adaptasi dengan luar dan integarsi internal.
Dengan pemahaman tersebut, lebih lanjut Bob Widyahartono (http://www.ama-sby.com/71-artikel_filosofi.htm) menambahkan bahwa budaya organisasi mempunyai peranan sebagai sarana untuk menentukan arah organisasi, mengarahkan apa yang patut dan tidak patut dikerjakan , bagaimana mengalokasi sumber daya organisasional . Hal tersebut tercermin dalam nilai nilai fundamental organisasi seperti : 1. kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan dan tenaga kerjanya , 2. kebebasan karyawan untuk memberikan ide-ide baru dengan mendasari dengan jawaban atas "mengapa"nya ide baru itu, 3. keberanian untuk menerima risiko yang mungkin saja terjadi, dan 4. keterbukaan untuk melakukan interaksi komunikasi dialogis secarabebas dan bertanggung jawab.
Dengan adanya perbedaan nilai nilai fundamental tersebut dapat mempengaruhi perbedaan kompetensi antara perusahaan yang satu dengan yang lainnya. Selain itu budaya organisasi dapat memberikan kesadaran beridentitas para anggota untuk menyerap visi, misi dan menjadi bagian integral dari organisasi.
Hotel X melalui penetapan Misi Perusahaan : We Care More For Our Customer, Staff, Shareholder/owner, Community dan Visi Perusahaan : Being Market Leader and Trend Setter memiliki nilai-nilai budaya yang dapat menunjang misi dan visi tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya sosialisasi yang baik.
Susanto (1997 : 13-14) menyatakan bahwa keberhasilan proses sosialisasi (usaha organisasi membantu menyesuaikan dengan budaya yang ada), tergantung pada dua hal utama, yaitu : (1) Derajat keberhasilan mendapatkan kesesuaian dari nilai-nilai yang dimiliki oleh karyawan baru terhadap organisasi., (2) Metode sosialisasi yang dipilih oleh manajemen puncak didalam implementasinya.
Lebih lanjut Susanto (1997 : 14) menambahkan bahwa organisasi yang dibantu oleh manajemen puncak harus mampu melakukan sosialisasi terhadap sumber daya manusia agar hasil dari proses sosialisasi tersebut akan mempunyai dampak terhadap produktivitas, komitmen dan perputaran (turn over) dari sumber daya manusia yang ada, sehingga pada akhirnya setelah proses implementasi butir-budaya tersebut dapat dijalankan dengan baik, Budaya Perusahaan tersebut akan mendukung dan mendorong sumber daya manusia untuk mencapai sasaran yang diinginkan oleh organisasi.
Perusahaan yang memiliki budaya yang tertanam kuat akan memiliki karyawan bermotivasi dan berkomitmen tinggi, antara lain : rela berkorban demi kemajuan perusahaan, bersedia memberikan perhatian yang besar pada perkembangan perusahaan dan memiliki tekad yang kuat untuk menjaga eksistensi perusahaan (http://www.angelfire.com/id/akademika/rkstylemcs97.html) .Oleh karena itu strategi komunikasi yang dilaksanakan oleh manajemen Hotel X didalam penerapan dan sosialisasi budaya perusahaan harus disesuaikan dengan kekuatan internal dan eksternal perusahaan.

1.2 Perumusan Masalah
Menyusul adanya rencana sejumlah pendirian hotel baru di ibu kota Jateng, hal tersebut menyebabkan semakin meningkatnya persaingan dalam bisnis perhotelan. Untuk bisa memenangi kompetisi bisnis ini diperlukan terobosan dan strategi yang berbeda agar bisa menarik tamu . Pengaruh yang dirasakan oleh Hotel X terutama pada pengorganisasian rencana atau strategi perusahaan untuk menghadapi perubahaan tersebut, diantaranya menetapkan budaya perusahaan sebagai prioritas dan modal utama perusahaan.
Budaya perusahaan berpengaruh terhadap kelangsungan perusahaan. Budaya yang kuat dan sesuai dengan visi dan misi perusahaan mendorong pada peningkatan objective perusahaan. Budaya perusahaan sebagai dasar bagi berbagai hal dan berperan sebagai pedoman dalam bersikap, berperilaku mulai dari manajemen sampai karyawan ditingkat rendah dengan tujuan peningkatan produktivitas karyawan.
Sebuah organisasi yang berlandaskan filosofi yang mantap, budaya organisasi memiliki sejumlah peran strategis, yaitu menjadi “perekat” antar para yang terkait (stake holders) yang memiliki tujuan dan kepentingan kepentingan yang berbeda-beda. Sebagai sarana, ia membentuk “sense of belonging” (rasa ikut memiliki) dan “kebanggaan sebagai bagian dari organisasi” para pelaku organisasi. Sejalan dengan ekspektasi para yang terkait (stakeholders), budaya organisasi menggerakkan para karyawan untuk senantiasa segar dengan ide-ide barunya demi kepuasan pelanggan. Dengan menjiwai budaya para karyawan senantiasa membangun kemampuan menanamkan iklim organisasi yang harmonis dengan komunikasi yang senantiasa mencari perbaikan bersama.
Didalam sosialisasi terjadi proses komunikasi yang dapat menghasilkan hambatan atau permasalahan sehingga membutuhkan perhatian secara lebih agar menghasilkan kinerja yang optimal. Proses sosialisasi sebagai bentuk strategi komunikasi berkaitan erat dengan konsep care management yang mengutamakan kepedulian perusahaan, termasuk dari manajemen level atas, terhadap berbagai hal, permasalahan maupun kesejahteraan dari anggotanya dengan tetap berpedoman pada budaya perusahaan yang sudah ditetapkan.
Dipilihnya Hotel X disebabkan perusahaan tersebut sebagai pemain lama dalam bisnis perhotelan di kota X berusaha melakukan perubahan yang diperlukan untuk memposisikan diri agar lebih baik dalam menyikapi dan menjawab tantangan-tantangan bisnis baru, lingkungan usaha yang berubah secara cepat maupun keinginan-keinginan baru yang muncul dari dalam perusahaan. Perubahan dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan terhadap pola pikir, pola pandang dan pola tindak perusahaan, strategi bisnis, budaya perusahaan maupun perilaku dan kemampuan organisasi.
Permasalahan terkait dengan cara mengkomunikasikan budaya perusahaan menarik untuk diteliti, dilihat dari segi nilai budaya yang berlangsung dalam perusahaan, pihak-pihak yang terkait dalam perusahaan dan proses sosialisasi yang terjadi didalamnya. Kiranya cukup relevan apabila penelitian ini ingin pula mengungkap permasalahan tentang bagaimanakah strategi komunikasi yang diterapkan dalam usaha mensosialisasikan budaya perusahaan dikalangan karyawan dan mengapa strategi tersebut digunakan.

1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi yang digunakan dalam mensosialisasikan budaya perusahaan dikalangan karyawan serta alur proses sosialisasi budaya perusahaan di Hotel X, selanjutnya diharapkan budaya perusahaaan dalam implementasinya berfungsi sebagai alat ukur dari kegiatan organisasi dan setiap anggota organisasi dalam hal ini karyawan dapat memberikan kontribusi terhadap keberadaan budaya perusahaan yang ada dengan memahami budaya perusahaan yang telah dibakukan dalam beberapa karakteristik didalamnya sebagai wujud nyata perusahaan yang dapat dirasakan keberadaanya oleh seluruh karyawan sehingga pada penerapannya akan mendukung pencapaian visi dan misi perusahaan.

Skripsi Strategi Motivasi dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja di PT. X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Globalisasi dan ketatnya persaingan saat ini menjadi sebuah tantangan yang wajib dihadapi setiap perusahaan untuk mempertahankan eksistensi dan kehidupannya. Perusahaan yang kalah dalam persaingan adalah perusahaan yang lamban dalam merespon situasi pasar dan keadaan intern perusahaan, sehingga hasil produksi menurun. Hal ini akan memicu menurutnya penilaian publik, baik internal maupun eksternal yang bisa saja berakibat pada gulung tikarnya sebuah perusahaan.
Menurutnya hasil produksi ini kemungkinan besar bermuara dari sumberdaya manusia yang mana memiliki andil penting sebagai divisi penghasil produk. Dengan kata lain, meningkatnya hasil produksi (produktivitas) tergantung pada sumber daya manusianya. Maka dari itu seyogyanya dalam peningkatan hasil produksi perusahaan memberikan fokus khusus pada sumberdaya manusia (karyawan) termasuk aspek-aspek yang berkenaan dengannya.
Pemeliharaan komunikasi yang baik antara karyawan dan pimpinan melalui persamaan dan penyetaraan mutu dan misi bersama menjadi media yang tepat dan akan menciptakan iklim yang kondusif dalam lingkungan kerja (perusahaan) sehingga pada akhirnya terjalin hubungan baik antara karyawan dan pimpinan, serta mampu memicu timbulnya rasa sense of belonging pada perusahaan dalam diri karyawan. Selain itu, dalam pertukaran informasi dari karyawan dan pimpinan, harapan karyawan dan kemauan pimpinan melebur menjadi satu untuk menciptakan persamaan persepsi, visi, dan misi perusahaan.
Bentuk keterlibatan karyawan baik kegiatan formal maupun kegiatan nonformal (gathering) merupakan sebuah aspek dalam peningkatan mutu kehidupan berkarya. Berbagai teknik dipergunakan pada intinya berkisar pada peningkatan partisipasi karyawan dalam keputusan yang menyangkut pekerjaan mereka dan hubungannya dengan perusahaan. Dengan demikian, bukan hanya rasa tanggung jawab karyawan yang ditingkatkan akan tetapi yang sesungguhnya diharapkan terjadi adalah timbulnya rasa memiliki perusahaan. Sudah barang tentu adanya rasa memiliki akan berakibat pada keberhasilan perusahaan. Karena para anggota organisasi akan berusaha menghindari perilaku yang disfungsional dan dengan demikian bekerja dengan lebih produktif
Dengan adanya rasa memiliki perusahaan karyawan tidak akan lagi bekerja sesuai dengan perintah atau berdasarkan gaji melainkan berdasarkan kemauan sendiri dan panggilan hati nurani untuk menjaga stabilitas perusahaan yang menaunginya, dengan meningkatkan hasil produksi perusahaan. Pertemuan memenuhi kebutuhan inti manusia. George Kelly, John Dewey, Martin Buber, dan komentator -komentator lain tentang kondisi manusia, telah mengamati bahwa pertemuan tatap muka bisa menjaga persatuan dunia realitas manusia. Bersama-sama orang membangun bahasa, sistem nilai dan kode tingkah laku yang mendefinisikan ‘dunia’ dengan kata lain, pertemuan memberikan kesempatan bagi pembentukan struktur kolektif, struktur kolektif bermanfaat untuk menyatukan nilai-nilai dan tujuan-tujuan individu dengan orang lain yang ada dalam lingkup perusahaan.
Beberapa pertemuan sengaja didesain sebagai acara informal semisal perayaan hari besar agama, nasional. Bahkan manajemen membuat acara spesial seperti ulang tahun perusahaan. Semua staf dan karyawan berkumpul, hal ini bertujuan untuk menjalin hubungan dan komunikasi antar keduanya. Celah yang dapat diambil oleh manajemen adalah pemberian motivasi pada karyawan. Bisa ditelaah bahwa dalam keadaan seperti itu ada tujuan-tujuan khusus yang nantinya akan menjadi pondasi kuat dalam perusahaan untuk menjaga kehidupan perusahaan, Tujuan itu adalah Motivasi.
Pada dasarnya, motivasi yang dilakukan oleh perusahaan melalui media gathering adalah kiat untuk meningkatkan hasil produksi perusahaan. Dengan adanya gathering ini karyawan akan merasa ada di perusahaan dan merasa dihargai sehingga rasa disfungsi tidak timbul dalam diri karyawan dan pada akhirnya akan memunculkan sikap atau tindakan produktivitas dalam perusahaan yang berdasarkan pada sense of belonging.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan konteks penelitian di atas, maka peneliti dapat membuat Fokus penelitian :
Bagaimana motivasi yang dilakukan untuk meningkatkan produktifitas kerja?

C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui gambaran mengenai strategi motivasi yang dilakukan guna meningkatkan produktivitas kerja.

D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
Diharapkan dapat berguna serta dapat memberi sumbangan pemikiran dan sebagai pengembangan pengetahuan tentang Motivasi di kalangan akademisi, serta diharapkan mampu menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya. Serta menjadi tambahan acuan penerapan motivasi di PT. X.
2. Secara Praktis
Untuk dijadikan acuan atau sebagai sumbangan pemikiran yang diharapkan dapat berguna dalam menunjang keberhasilan peningkatan hasil produksi. Dan juga sebagai bahan pertimbangan akan pentingnya strategi motivasi dalam persaingan global saat ini, sehingga tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dapat tercapai dengan baik dan sesuai tujuan.

E. Definisi Konsep
Konsep atau pengertian, adalah unsur pokok dari suatu penelitian. Konsep sebenarnya adalah definisi secara singkat dari kelompok fakta dan gejala-gejala yang menjadi pokok perhatian. Jika masalah dan kerangka teoritisnya sudah jelas, biasanya sudah diketahui pula fakta yang mengenai gejala-gejala yang menjadi pokok perhatian, dan suatu konsep sebenarnya adalah sesuatu definisi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala itu.
Agar tidak terjadi kekeliruan makna mengenai motivasi, maka penulis akan memberikan gambaran dari beberapa teori yang ada hubungannya dengan penelitian, diantaranya adalah:
1. Strategi
Strategi menurut bahasa adalah untuk mencapai suatu maksud. Jadi strategi adalah rangkaian keputusan dan tindakan untuk mencapai suatu maksud dalam pencapaian tujuan organisasi.
Menurut siagian dalam bukunya manajemen strategik, bahwa strategi adalah serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan implementasi oleh seluruh jajaran atau organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi tersebut. Menurut Philip Kotler strategi adalah wujud rencana yang terarah untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Sedangkan menurut Basu Swasta strategi adalah suatu rencana yang diutamakan untuk mencapai tujuan. Strategi juga didefinisikan sebagai suatu proses yang menentukan arah yang perlu dituju oleh organisasi untuk memenuhi misinya.
2. Motivasi
Adalah tindakan untuk melakukan sebuah dorongan dengan melalui berbagai cara, cara yang biasa ditempuh dalam motivasi adalah pemenuhan kebutuhan.
Motivasi menyangkut soal perilaku manusia dan merupakan elemen vital di dalam suatu elemen manajemen. Motivasi dapat diartikan sebagai mengusahakan supaya seseorang dapat menyelesaikan pekerjaan dengan semangat karena ingin melaksanakannya. Sedangkan tugas manajer dalam kasus motivasi ini adalah menciptakan kondisi-kondisi kerja yang kondusif sehingga mampu membangkitkan dan mempertahankan keinginan untuk bersemangat tersebut.
3. Produktivitas Kerja
Adalah aktivitas yang ada dalam perusahaan dengan indikasi kenaikan hasil produksi. Kedisiplinan, dan iklim kerja yang kondusif dalam perusahaan. L. Greenberg mendifinisikan produktivitas sebagai perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi totalitas masukan selam periode tersebut.
Produktivitas juga diartikan sebagai berikut :
a. Perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil
b. Perbandingan antara kumpulan jumlah pengeluaran dan masukan yang dinyatakan dalam satu satuan unit umum.
Ukuran produktivitas yang paling terkenal berkaitan dengan tenaga kerja yang dapat dihitung dengan membagi pengeluaran oleh jumlah yang digunakan atau jam-jam kerja orang.
Namun demikian terjadi kerugian karena adanya pembatasan bahwa perbandingan produktivitas antara perusahaan dapat keliru, jika perusahaan tersebut memiliki tenaga kerja dan peningkatan modal yang berbeda.
Produktivitas kadang-kadang sebagai penggunaan lebih intensif terhadap sumber-sumber konversi seperti tenaga kerja dan mesin yang jika diukur secara tepat akan benar-benar menunjukkan suatu penampilan atau efisiensi. Namun dengan demikian mungkin serikat buruh tidak seluruhnya menyetujui definisi ini. A. Bluchor dan E. Kapustin nampaknya berpegangan pada pendapat yang memisahkan produktivitas dengan intensitas tenaga kerja, karena ketika produktivitas mencerminkan manfaat tenaga kerja, intensitas menunjukkan jumlah atau ketegangan kerja dan dapat dianggap sebagai “percepatan” kerja.
Persoalan pencapaian suatu definisi produktivitas yang mendetail bukanlah masalah produktivitas itu sendiri, namun suatu masalah di luar produktivitas yang merupakan tujuan dan sasaran-sasaran manajemen dalam sistem dan organisasi, dimana tujuan yang berbeda memerlukan pendekatan berbeda pula untuk mendifinisikan produktivitas.
Jadi definisi produktivitas bukanlah hanya satu masalah teknik maupun manajerial tetapi merupakan satu masalah yang komplek, merupakan masalah yang berkenaan dengan badan-badan pemerintahan, serikat buruh, dan lembaga-lembaga sosial yang lain. Yang semakin berbeda tujuannya akan semakin berbeda pula definisi produktivitasnya.

F. Sistematika Pembahasan
Dalam pembahasan suatu penelitian diperlukan sistematika pembahasan yang bertujuan untuk mempermudah penelitian. Langkah-langkah pembahasan dalam laporan adalah sebagai berikut:
BAB I : Yaitu PENDAHULUAN. Pada bab ini terdiri dari enam sub bab, antara lain yaitu, latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian , definisi konsep, sistematika pembahasan.
BAB II : Yaitu PERSPEKTIF TEORITIS. Pada bab ini terdiri dari satu sub bab yaitu, konseptual.
BAB III : Yaitu METODE PENELITIAN. Pada bab ini terdiri dari tujuh sub bab yaitu, pendekatan dan jenis penelitian, subyek dan sasaran penelitian, jenis dan sumber data, data penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, teknik keabsahan data.

BAB IV : Yaitu PENYAJIAN DATA. Pada bab ini terdiri dari dua sub bab yaitu, tentang deskripsi umum obyek penelitian dan deskripsi hasil penelitian.
BAB V : Yaitu ANALISIS DATA. Terdiri dari sub bab pertama yang mengupas temuan dan sebab tentang konfirmasi temuan teori.
BAB VI : Yaitu PENUTUP. Terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.

HUBUNGAN ANTARA PENERAPAN AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN DENGAN EFEKTIVITAS PENGENDALIAN BIAYA (Survei Pada 5 Hotel di Kota Tasikmalaya)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi konsep akuntansi pertanggungjawaban yang diterapkan sebagai alat manajemen pada suatu perusahaan jasa dalam mencapai efektivitas pengendalian biaya dan untuk pertanggungjawaban dengan efektivitas pengendalian biaya.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik survey yaitu metode penelitian yang mengambil sample dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data, diproses kemudian dianalisis serta dibandingkan dengan teori yang ada sedangkan pengujian data diperlukan langkah-langkah yaitu pengujian data dan rancangan pengujian hipotesis.

Dari hasil penelitian yang telah penulis laksanakan di lima hotel kota Tasikmalaya, perusahaan tersebut telah menerapkan akuntansi pertanggungjawaban dengan cukup baik, hal ini dapat diketahui berdasarkan kondisi-kondisi yang harus dipenuhi.

Hasil akhir pengujian yang diperoleh dari dua pusat pertanggungjawaban pada lima hotel yang menjadi responden adalah bahwa terdapat hubungan yang positif antara penerapan akuntansi pertanggungjawaban yang memadai dengan efektivitas pengendalian biaya, dengan tingkat korelasi 60 % dimana pengujian yang dilakukan menggunakan Analisis Koefisien Korelasi rank Kendall.

Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan terhadap Karakteristik Informasi Sistem Akuntansi Manajemen dengan Moderasi Locus of Control pada Perusahaan Manufa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan Terhadap Karakteristik Informasi Sistem Akuntansi Manajemen dengan Moderasi Locus of Control pada Perusahaan Manufaktur di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Metoda pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode angket, dimana angket tersebut berbentuk skala yang disusun berdasarkan teori-teori dukungan sosial dan teori-teori perilaku asertif. Skala yang dibentuk yaitu skala dukungan sosial dan skala perilaku asertif yang disusun oleh Lili Yuniarti (1998), kemudian dimodifikasi dan penambahan oleh penulis dalam hal jumlah dan kata-kata. Sebelum data digunakan terlebih dahulu dilakukan uji coba data dengan uji validitas dan reliabilitas. Sedangkan metoda analisis yang digunakan dengan metoda korelasi product moment pearson.

Berdasarkan proses uji coba diperoleh nilai 0,9540 untuk dukungan sosial dan 0,9454 untuk perilaku asertif yang berarti data tersebut reliabel dan dapat digunakan. Sedangkan berdasarkan metoda analisis diketahui bahwa besarnya koefisien korelasi antara kedua variabel adalah rxy = 0,361 (rxy>0,195) dan p = 0,000 (p<0,05).>

Kumpulan Contoh Skripsi Tugas Akhir Proposal Komplit

PROPOSAL SKRIPSI“ ANALISI INDDEKS KEPUASAN MANYARAKAT TERHADAP PELAYANAN YANG DIBERIKAN KELURAHAN PEMURUS BARU BANJARMASIN (STUDI KASUS PEMBUATAN KTP)”FAKULTAS EKONOMIUNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURATTAHUN 2009BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangPelayanan publik oleh aparatur pemerintah dewasa ini masih banyak dijumpai kelemahan sehingga belum dapat memenuhi kualitas yang diharapkan masyarakat. Hal ini ditandai dengan masih adanya berbagai keluhan masyarakat yang disampaikan melalui media massa, sehingga...
Continue Reading...


PROPOSAL SKRIPSIMENGANALISA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM MEMBELI HELM MEREK GVOLEH:ROBBY HENDRATNA MANAJEMEN PEMASARAN FAKULTAS EKONOMIUNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN2008BAB IPENDAHULUANA.Latar Belakang Pada tahun 2003 dimulainya operasi pemusnahan helm yang bukan standar oleh jajaran kepolisian, ada beberapa warga Banjarmasin yang mengeluh/segan dengan penggunaan helm standar. Berbagai alasan mulai dari kepala terasa berat,tidak nyaman,tidak mendengar kalo ada...
Continue Reading...


Kebakaran lahan dan hutan di Indonesia, terjadi setiap tahun walaupun frekuensi, intensitas dan luas arealnya berbeda. Kebakaran paling besar terjadi pada tahun 1997/1998 dan pertama kali dinyatakan sebagai bencana nasional. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran lahan dan hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis, menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, perubahan iklim mikro dan global, asapnya menganggu kesehatan masyarakat, serta menganggu...
Continue Reading...


Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang “Upaya Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Kalimantan Barat Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai” dengan permasalahan yang telah diidentifikasi sebagai berikut : bahwa untuk melaksanakan tugas-tugas pokok dibidang kepegawaian, maka diperlukan sumber daya aparatur yang memiliki kemampuan dan produktivitas kerja yang tinggi, perlunya pemberian motivasi agar pegawai memiliki semangat kerja yang tinggi, keberadaan sarana dan prasarana kerja yang mendukung...
Continue Reading...


Suatu perusahaan jasa jika ingin tetap bertahan dan bersaing serta mampu mengembangkan bisnisnya harus lebih meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen agar tercipta suatu kepuasan. Super Swalayan sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Ritel yang menawarkan barang-barang kebutuhan rumah tangga bagi masyarakat mulai berbenah diri dengan meningkatkan kualitas pelayanan yang baik dimata konsumen, hal itu dilakukan dengan harapan kepuasan konsumen terpenuhi sehingga mampu bersaing dengan perusahaan...